Mungkin pada akhirnya aku tak kan pernah bisa menggapaimu dan hanya akan mengagumi dari jauh.
Kamu. Iya kamu. Kamu itu satu – satunya lelaki yang memberitahuku bagaimana rasanya diperjuangkan. Dan lelaki yang juga mengajariku apa itu ikhlas melepaskan. Kamu adalah lelaki yang mengajarkanku apa arti sakit tapi pada detik yang sama kamu juga mengajariku apa arti pentingnya bersyukur.
Aku terlambat menyadari segalanya. Sok cuek di awal, mungkin itu memang salahku. Ingin terus diperjuangkan tanpa mau tahu sakit yang kamu rasakan, itu juga salahku. Terus menuntut ini dan itu tanpa pernah bertanya apa yang kamu mau, itu pun salahku. Mungkin memang aku yang selalu salah. Semua memang salahku.
Sialnya, saat aku tahu kamu telah menyerah terhadapku, aku baru sadar seberapa besar aku menyayangimu di antara perihnya luka hatiku. Kau tak akan pernah tahu bagaimana rasanya hati ini yang begitu nyaman bertahan setelah banyaknya kejadian yang kita lewati beberapa tahun belakangan. Bahkan otakku kadang bertanya, mengapa aku bisa sebodoh ini?
Hidup adalah pilihan, bukan penyesalan. Aku dan kamu berhak mengambil langkah ke depan bukan mundur ke belakang.
Kamu sudah dewasa dan aku percaya kamu. Setiap keputusan yang diambil selalu ada resikonya. Aku yakin kamu pasti memilih yang terbaik untuk hidupmu. Dan aku berharap kamu selalu bahagia atas segala keputusan yang kamu ambil. Apapun itu. Semenyakitkan apapun itu untukku.
Nanti jika kita bisa bertemu kembali, aku ingin melihat senyum menawan yang membuatku jatuh hati padamu itu tak pernah hilang dari wajahmu, tak lagi tertutup kesedihan dan keresahan. Melihat badan kurus yang sering malas kamu beri makan itu jauh lebih berisi dari sekarang.
Dan nanti, jika kamu sudah menemukan wanita yang tepat untukmu, izinkan aku tetap menyebut namamu dalam doaku. Izinkan aku memberikan ruang khusus dalam hatiku untuk mengenangmu karena aku tak sanggup berjanji melupakanmu begitu saja. Setelah semua yang kita lewati bersama.
READ ME!!
Aku minta maaf karena tak bisa menjadi seperti harapanmu. Tak bisa membantumu lepas dari rasa sakit dan sepi dalam hatimu. Maaf, pernah tak memperdulikan usahamu dulu saat kamu berbesar hati mendekatiku. Maaf sudah berkali – kali putus asa dan pergi meninggalkanmu. Walaupun pada akhirnya aku selalu kembali kepadamu. Asal kamu tahu, aku pernah bahagia saat cinta sederhana itu ada.
Saat waktu terus bergulir, aku hanya ingin kita sama – sama bahagia menatap masa depan.
Kini waktunya aku meneruskan hidupku dengan bahagia sebagai tanda terima kasihku padamu atas segala pemahaman dan kekuatan yang kau berikan dalam hidupku. Pemahaman dan kekuatan yang datang dari rasa perih, luka hati dan penyesalan yang terbingkai indah dalam manisnya kisah kita. Aku janji suatu hari nanti, aku akan menjadi perempuan mempesona yang begitu tangguh dan itu adalah bukti rasaku padamu.
Aku tak ingin melepasmu dengan air mata. Tak perlu ada yang didramatisir antara kita. Waktunya aku berbesar hati menerima kenyataan dan melepasmu pergi dengan senyuman. Aku tak ingin kamu terlihat sebagai lelaki jahat yang menyakitiku dan menyia–nyiakanku karena kamu begitu berharga untukku.
Aku ingin rasaku padamu abadi dalam hatiku sama seperti pembelajaran hidup yang kau beri padaku. Abadi. Dan akan selalu menjadi penolongku dalam menjalani hidup yang fana ini.
Terima kasih untukmu yang sudah bersedia datang ke dalam hidupku padahal ada banyak kehidupan yang lebih indah untuk kamu datangi. Bahagiamu akan selalu jadi bahagiaku walaupun kamu bahagia atas hal lain, walaupun mungkin kamu bahagia dengan yang lain.
Bahagialah. Aku tak akan pernah tega merusak ketentraman hidupmu yang sekarang, yang membuatmu merasa nyaman. Ingatlah bahwa aku akan sangat sedih jika kau tak bahagia disana.




